Selasa, 04 Maret 2014
Sumber Daya Alam Provinsi Gorontalo
Dalam rangka mewujudkan Gorontalo sebagai kota pertanian (Agropolitan), maka berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi melalui perbaikan infrastruktur sebagai pilar pilar dalam memacu pembangunan, antara lain penyediaan sarana produksi pertanian, penyediaan dana penjamin, peningkatan SDM pertanian, memperlancar pemasaran dengan jaminan harga dasar dan lain lain, dengan menyusun berbagai program:
1. Pengembangan tanaman pangan, di versifikasi pangan dan ketahanan pangan daerah;
2. Pengembangan agropolitan menuju satu jutaan ton jagung;
3. Pengembangan agro bisnis, dan
4. Peningkatan peran dan fungsi kelembagaan petani melalui pembedayaan masyarakat pertanian.
Dalam mengembangkan potensi dan keaneka ragaman sumber daya alam di Provinsi Gorontalo merupakan peluang investasi untuk dikembangkan, seperti investasi di bidang agro bisnis (pertanian dan perkebunan), termasuk juga agro industri (nata de coco, minyak kelapa dan Dubuk santan) serta di bidang pertambangan (emas, granit clan bahan galian golongan ),
Prioritas pengembangan selama lima tahun ke depan diproyeksikan pada komoditi jagung dengan luas areal produksi jagung tahun 2004 seluas 35.692,450 ha dengan jumlah produksi sebanyak 323,065 ton dan untuk jagung louning sendiri telah berhasil di ekspor sebesar 9.148 ton.
Dari luas wilayah Provinsi Gorontalo seluas 1.221.544 ha, untuk areal potensial pertanian seluas 463.649,09 ha atau 37,95%, tetapi yang baru di manfaatkan seluas 148.312,78 ha (32%) atau masih terdapat peluang pengembangan lahan 315.336,31 ha. Wilayah Provinsi Gorornalo merupakan daerah agraris dengan keadaan topografi datar, berbukit-bukit sampai dengan bergunung sehingga berbagai jenis tanaman pangan dapat tumbuh dengan baik di daerah ini.
Luas lahan kering adalah 215.845,00 ha. Sedangkan rawa-rawa (tegalan) seluas 1.580,00 ha, Luas areal produksi padi pada tahun 2006 yaitu 45.027 ha dengan jumlah produksi tahun 2006 sebanyak 197.600,94 ton dan mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2005 yang mempunyai luas areal 37.831 ha dengan jumlah produksi sebanyak 164.168 tom. Luas areal produksi kedelai pada tahun 2006 adalah 5.217 ha dengan jumlah produksi 6.767,21 ton, mengalami peningkatan jika dibandingkan pada tahun 2005 yang mempunyai luas areal produksi 2.677 ha dengan jumlah produksi 3.738 ton. Luas areal produksi kacang tanah pada tahun 2006 adalah 2.825 ha dengan jumlah produksi 3.316,79 ton meningkat jika dibandingkan pada tahun 2005 yang mempunyai luas areal 4.335 ha dengan jumlah produksi mencapai 5.371 ton. Luas areal produksi ubi kayu pada tahun 2006 adalah seluas 853 ha dengan jumlah produksi mencapai 9.742,04 ton. Luas areal produksi Singkong dan umbi-umbian seluas 894,70 dengan jumlah produksi sebanyak 10.041 ton. Luas areal produksi sayur-sayuran pada tahun 2006 adalah 3.674 ha dengan jumlah produksi mencapai 74,44 ton/ha.
Jika dilihat dari data luas kawasan hutan Provinsi Gorontalo pada tahun 2004 berdasarkan TGHK (Tata Guna Hutan Kesepakatan), maka lufas kawasan hutan Provinsi Garontalo seluas 826.378,12 ha, yang terdiri dari: hutan lingdsing seluas 165.488,67 ha, hutan konservasi seluas 20.135,60 ha, hutan produksi terbatas seluas 342.449,55 ha, dan hutan produksi seluas 100.684,45 ha. Dari seluruh luas hutan tersebut hasil kayu yang di dapat mencapai total 14.808.000 m³.
Kawasan laut di Gorontalo, terutama di Teluk Tomini, menyimpan banyak potensi alam karena merupakan satu satunya teluk yang dilalui garis khatulistiwa. Perikanan dan kelautan merupakan sektor unggulan bagi Goronralo yang memiliki garis pantai yang cukup panjang, Garis pantai Utara dan Selatan masing masing memiliki panjang sekitar 270 kilometer dan 320 kilometer. Gorontalo akan di kembangkan sebagai wilayah Agropolitan dengan Pertanian dan Perikanan yang akan menjadi Sektor Pengembangan Ekonomi Unggulan Provinsi. Potensi sumber daya perikanan Gorontalo berada di tiga perairan, yakni Teluk Tomini, Laut Sulawesi, dan Zone Ekonomi Eksklusif Laut Sulawesi. Sayangnya, tingkat pemanfaatan perikanan tangkap baru 24,05% atas 19.771 ton per tahun.
Luas wilayah perairan Gorontalo termasuk cukup besar yakni di Utara sepanjang 270 kilometer menghadap ke Laut Sulawesi ada areal Zone Ekonoinic Exclusive (ZEE) yang kaya dengan hasil laut. Jenis ikan yang ada di wilayah itu adalah palangis besar dan palangis kecil.
Sejak menjadi provinsi, produksi hasil perikanan di Gorontalo terus meningkat, Sektor perikanan tangkap dengan potensi mencapai 1.226.090 ton, dapat menghasilkan produksi sebesar 37.036 ton/tahun, sektor budidaya laut dengan potensi mencapai 25.050 ton dapat menghasilkan produksi sebesar 5.648,3 ton/tahun, sektor budidaya air payau dengan jumlah potensi mencapai 59.770 ton dapat menghasilkan produksi sebesar 1.553,2 ton/tahun dan budidaya air tawar dengan potensi mencapai 928,6 ton dapat meningkatkan produksi sebesar 928,6 ton/tahun.
Potensi kelautan lainnya yang menjadi unggulan, yaitu budi daya rumput laut yang didukung program Gerakan Menanam Rumput Laut (Germar Laut), pemanfaatan lahannya baru mencapai sekitar 850 ha dengan produksi 4.250 ton/ha/tahun.
Sumber: Indonesia Tanah Airku (2007)
Senin, 03 Maret 2014
Monumen Pahlawan Nani Wartabone

Monumen
Nani Wartabone dibangun sekitar tahun 1987 pada masa pemerintahan Bapak
Drs. A. Nadjamudin sebagai Walikotamadya Gorontalo, tepat didepan rumah
Dinas Gubernur Propinsi Gorontalo.
Nani Wartabone
adalah putera asli Daerah Gorontalo, yang telah banyak mengabdikan diri
sebagai pejuang bangsa dan negara, dalam gerakan patriotisme dalam
melawan penjajah. Gerakan patriotisme Rakyat Gorontalo dibawah pimpinan
Nani Wartabone, merupakan suatu gerakan yang panjang waktunya melalui
kurun waktu dan berbagai macam siasat dan strategi perjuangan, baik yang
bersifat legal maupun ilegal.
Seluruh
perjuangan rakyat Gorontalo yang bersifat patriotik itu akhirnya
mencapai klimasnya pada tanggal 23 Januari 1942, suatu peristiwa heroid
yang berhasil menggulingkan Pemerintah Kolonial Belanda, dan berhasil
mendirinkan Pemerintahan yang merdeka.
Jiwa
patriotisme yang tumbuh dan terpelihara sejak abad ke XVII, berpuncak
pada patriotisme 23 Januari 1942, merupakan batu-batu kerikil yang
dipersembahkan rakyat Gorontalo dalam batas-batas kemampuannya dalam
pembangunan raksasa Republik Indonesia yang lahir pada tanggal 17
Agustus 1945. Jiwa patriotik tersebut muncul dan tumbuh terus dimasa
kekuasaan Jepang, bahkan dibina dan diwariskan kepada Generasi yang
sedang mengisi kemerdekaan ini.
Monemen
Nani Wartabone dibangun untuk mengingatkan kepada masyarakat Gorontalo
akan peristiwa bersejarah 23 Januari 1942, dan diharapkan agar bibit
buah hasil perjuangan itu akan tumbuh pada jiwa generasi sesudahnya
untuk membangun Indonesia tercinta ini dalam mengisi kemerdekaan.
Benteng Orange
Tempat
pembangunan Benteng Orange cukup strategis, dan tersebunyi disebuah
bukit sekitar 600 meter dari jalan Trans Sulawesi. Setelah memasuki
areal benteng, disana terpampang papan nama benteng yang bertuliskan
'Cagar Budaya Benteng Orange' oleh kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.
Tampak, papan ini itu belum lama terpasang didepan tangga pertama
benteng.
Untuk menembus
benteng, harus meniti 139 anak tangga terbuat dari batu gunung berukuran
1x setengah meter. Setelah melalui tangga ke 78, ditemui ada sebuah pos
penjagaan. Kemudian, ketika mencapai tangga ke 120 ada satu lagi pos
penjagaan. Sayangnya, pos jaga tentara Portugis ini sudah rusak,
sehingga yang terlihat hanya beton bersegi empat ukuran 2×2 meter.
Perjalanan belum sampai disitu, untuk memasuki pintu gerbang benteng
masih ada 29 anak tangga lagi. Disamping kanan, ada post penjagaan lagi
yang ukurannya cukup besar. Meski terlihat kumuh namun masih berdiri
kokoh. Nampaknya, pejagaan dulu oleh Portugis sangat ketat. Setiap yang
masuk harus diperiksa melalui penjaga pos.
Suasana
hangat dan sejuk menyambut siapapun yang mengunjungi situs sejarah ini
karena areal benteng dipenuhi pohon ketapang yang rimbun. Dari pos induk
ini, terlihat satu benteng besar yang kokoh disebelah kiri, dan ada
lagi satu pos pengintai dibagian kanan, dengan 45 anak tangga untuk
berada dipuncak pos pengintai. Diduga, pos pengintai musuh digunakan
oleh Portugis untuk melihat dari jarak jauh kapal-kapal bajak laut atau
musuh yang datang menyerang karena dari pos pengintai ini terlihat jelas
hamparan laut luas.
Di
pos pengintai, ada sebuah benteng perlindungan berbentuk bundar dengan
ukuran sekitar 10×10 meter dan ketebalan dinding hampir setengah meter.
Sayangnya, kini benteng yang satu ini sudah tertimbun tanah, dan sudah
ditumbuhi rumput liar karena tak dirawat.
Untuk
memasuki benteng utama, harus melalui satu pos penjagaan kecil. Benteng
utama ini konon dibuat untuk menjadi sarang pertahanan seluruh tentara
Portugis. Betapa tidak, benteng utama ini berukuran 50 x 40 meter
persegi dengan ketebalan dinding 60 centi meter. Dibagian kanan benteng,
ada lagi satu ruangan terbuka untuk ditempati meriam. 13 anak tangga
harus dilalui untuk berada di tempat meriam ini. Dibagian ujung benteng,
terdapat dua ruangan. Satu ruangan yang langsung mengarah ke laut
sebagai tempat meriam dan satunya lagi sebagai ruang pelindung.
Menariknya
dimasing-masing ruangan ini, ada tangga terowongan menuju tempat
perlindungan bawah tanah. Dibawah tempat penempatan meriam, ada sebuah
tangga menjulur kebawah yang menghubungkan dengan ruangan bawah tanah
yang terletak dibagian tengah benteng utama ini. Karena, tangga ruang
bawah tanah ini sudah tertimbun maka tidak bisa diprediksi berapa luas
ruang bawah tanah tersebut. Konon, tempat itu menjadi ruang perlindungan
bagi pejabat Portugis juga untuk prajurit jika situasi perang.
Sementara,
untuk tangga terowongan yang berada bawah tempat perlindungan menuju ke
laut. Sayangnya, terowongan ini sudah tertimbun tanah. "Terowongan
bawah tanah ini sekitar 100 meter menuju kelaut. Digunakan Portugis
untuk memasuki benteng dari arah laut.
Menurut
Opa Gani warga Sulawesi tenggara yang sudah 18 tahun menjaga benteng
ini menuturkan, nama asli benteng Orange belum diketahui. Namun, ketika
bangsa Belanda memasuki kawasan Gorut pada abad ke 18, mereka kemudian
menamakan benteng peninggalan Portugis dengan nama Orange. "Kenapa
dinamakan Benteng Orange, karena saat itu ada beberapa orang Belanda
yang bermain volli ball di benteng utama yang saat ini saya ditanami
tanaman jagung dan ubi jalar. Kala itu, orang-orang Belanda yang main
volli menggunakan baju warna orange sehingga pimpinan Belanda
berinisiatif menamakan benteng ini Benteng Orange," tutur Lagani, sambil
mengingat-ingat sejarah keberadaan benteng tersebut.
Pemugaran
benteng baru dilakukan tiga kali. Pertama, saat Belanda menduduki
wilayah Gorut 350 tahun silam dan kedua pada tahun 1980 dipugar oleh
bagian kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Dan baru-baru ini,
dilakukan perbaikan. Itupun hanya beberapa bagian benteng misalnya,
pagar benteng serta jalan menuju benteng.
Kondisi
Benteng Orange cukup memprihatinkan. Tak diurus, akibatnya beberapa
bagian benteng sudah rusak. Bahkan, tidak ada lagi ditemukan benda-benda
peninggalan Protugis maupun bangsa Belanda yang lama memanfaatkan
benteng sebagai pertahanan. Padahal, benteng orange ini bisa jadi salah
satu icon wisata yang dapat diandalkan.
Benteng Otanaha, Bangunan Bersejarah di Gorontalo

Berkunjung ke Provinsi Gorontalo, salah satu tempat menarik yang bisa Anda kunjungi adalah Benteng Otanaha. Benteng tersebut terletak di atas bukit Desa Dempe, dibangun pada tahun 1522 dan menghadap ke Danau Limboto. Keindahan dan panorama yang disajikan di benteng ini sayang bila Anda lewatkan.

Berkunjung ke Provinsi Gorontalo, salah satu tempat menarik yang bisa Anda kunjungi adalah Benteng Otanaha. Benteng tersebut terletak di atas bukit Desa Dempe, dibangun pada tahun 1522 dan menghadap ke Danau Limboto. Keindahan dan panorama yang disajikan di benteng ini sayang bila Anda lewatkan.
Dulunya benteng ini merupakan tempat
perlindungan dan pertahanan raja-raja Gorontalo saat melawan kolonial
Portugis. Lokasinya memang sangat strategis sebagai benteng pertahanan
dan menara pengintai saat jaman perang. Selain itu, struktur Benteng
Otanaha terbilang unik karena memiliki 4 buah tempat persinggahan dan
348 buah anak tangga untuk menuju ke lokasi benteng.
Benten Otanaha memiliki ketinggian
sekitar 7 meter dan diameter 20 meter. Hingga saat ini dinding-dinding
benteng masih terlihat kokoh. Yang uniknya, jika biasanya sebuah
bangunan menggunakan semen sebagai bahan perekat, Benteng Otanaha hanya
menggunakan telur burung maleo untuk merekatkan batu dan pasir.
"Benteng ini dibangun sejak tahun 1522 dan menghadap ke Danau Limboto"
Karena letaknya yang berada di puncak
bukit, sepanjang mata memandang akan terlihat jelas panorama Kota
Gorontalo dan Danau Limboto yang mengagumkan. Di sekitar Benteng Otanaha
terdapat pula dua buah benteng, yaitu benteng Otahiya dan Ulupahu, yang
saling terhubung dengan jalan setapak menuju tiap-tiap benteng. Namun
sangat disayangkan, pemeliharaan Benteng Otanaha masih kurang, banyak
coretan-coretan liar di dinding yang merusak pemandangan.
Untuk sampai ke benteng ini juga mudah,
wisatawan dapat melakukan perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit
dari pusat Kota ke arah Danau Limboto. Untuk mencapai bukit Anda dapat
menaiki anak tangga atau mengggunakan kendaraan pribadi dan parkir
persis di depan benteng. Wisatawan akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp
5.000 dan sudah bisa menikmati suasana benteng tua yang sarat akan
nilai historis ini.
ACARA GORONTALO
PAGELARAN ADAT SANGIHE TALAUD "TULUDE" 2014
Upacara adat ''Tulude'' merupakan hajatan tahunan
warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara (kepulauan Sangihe, Talaud
dan Sitaro) di ujung utara propinsi Sulawesi Utara. Telah berabad-abad
acara sakral dan religi ini dilakukan oleh masyarakat etnis Sangihe dan
Talaud sehingga tak mungkin dihilangkan atau dilupakan oleh generasi
manapun. Tradisi ini telah terpatri dalam khasanah adat, tradisi dan
budaya masyarakat Nusa Utara. Bahkan tradisi budaya ini secara perlahan
dan pasti mulai diterima bukan saja sebagai milik masyarakat Nusa Utara,
dalam hal ini Sangihe, Talaud dan Sitaro, tetapi telah diterima sebagai
suatu tradisi budaya masyarakat Sulawesi Utara dan Indonesia pada
umumnya. Sebab, di mana ada komunitas masyarakat etnis Sangihe-Talaud,
pasti di sana akan ada hajatan Tulude.Tulude pada hakekatnya adalah kegiatan upacara pengucapan syukur kepada Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan yang Mahakuasa) atas berkat-berkat-Nya kepada umat manusia selama setahun yang lalu. Namun, untuk mencari kepraktisan pelaksanaannya, banyak kelompok masyarakat menyelenggarakannya tidak sepenuhnya sebagai sebuah bentuk upacara, tetapi dilaksanakan dalam bentuk ibadah-ibadah syukur, mulai dari tingkat RT, lingkungan, kelurahan, jemaat-jemaat, organisasi rukun dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Namun, apapun bentuk pelaksanaannya, hakikat dari Tulude itu sendiri tetap menjadi dasar bagi pelaksanaannya setiap tahun.Pada masa awal beberapa abad lalu, pelaksanaan upacara adat Tulude dilaksanakan oleh para leluhur pada setiap tanggal 31 Desember, di mana tanggal ini merupakan penghujung dari tahun yang akan berakhir, sehingga sangat pas untuk melaksanakan upacara Tulude. Pengertian Tulude itu sendiri adalah menolak atau mendorong dalam hal ini menolak tahun yang lama dan siap menerima tahun yang baru. Dalam tradisi kafir leluhur masyarakat Sangihe dan Talaud, acara tolak tahun ini diwujudkan dengan upacara di tepi pantai dengan menolak, mendorong atau melepaskan sebuah perahu kecil yang terbuat dari kayu latolang (sejenis kayu yang tumbuh lurus tinggi tak bercabang) dengan muatan tertentu. Perahu ini oleh tokoh adat didorong, dilepas atau dihanyutkan ke laut sebagai simbol, segala sesuatu yang buruk di tahun yang akan lewat dibuang atau dihanyutkan ke laut agar tidak lagi menimpa warga desa setempat di tahun yang baru. Jika perahu tersebut dibawa arus laut dan terdampar di pantai atau desa tetangga, maka orang yang menemukannya wajib menolak dan menghanyutkannya kembali ke laut, karena dipercaya, kalau tidak dihanyutkan lagi, maka segala malapetaka dan sakit-penyakit yang pernah menimpa masyarakat asal perahu itu, akan berpindah ke tempat di mana perahu itu terdampar.
Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke wilayah Sangihe dan Talaud pada abad ke-19, upacara adat Tulude ini telah diisi dengan muatan-muatan penginjilan dan tradisi kekafiran secara perlahan mulai terkikis. Bahkan, hari pelaksanaannya yang biasanya pada tanggal 31 Desember, oleh kesepakatan adat, dialihkan ke tanggal 31 Januari tahun berikutnya. Hal ini dilakukan, karena tanggal 31 Desember merupakan saat yang paling sibuk bagi umat Kristen di Sangihe dan Talaud. Sebab, seminggu sebelumnya telah disibukkan dengan acara ibadah malam Natal, lalu tanggal 31 Desember disibukkan dengan ibadah akhir tahun dan persiapan menyambut tahun baru. Akibat kepadatan dan keseibukan acara ibadah ini dan untuk menjaga kekhusukan ibadah gerejawi tidak terganggu dengan upacara adat Tulude, maka dialihkankan tanggal pelaksanaannya menjadi tanggal 31 Januari. Bahkan pada tahun 1995, oleh DPRD dan pemerintah kabupaten kepulauan Sangihe-Talaud, tanggal 31 Januari telah ditetapkan dengan Perda sebagai hari jadi Sangihe Talaud dengan inti acara upacara Tulude. Dalam upacara adat tulude ini, ada berbagai konten adat yang dilakukan. Pertama, dilakukan pembuat kue adat Tamo di rumah seorang tokoh adat semalam sebelum hari pelaksanaan upacara. Kemudian, persiapan-persiapan pasukan pengiring, penari tari Gunde, tari salo, tari kakalumpang, tari empat wayer, kelompok nyanyi masamper, penetapan tokoh adat pemotong kue adat tamo, penyiapan tokoh adat pembawa ucapan Tatahulending Banua, tokoh adat pembawa ucapan doa keselamatan, seorang tokoh pemimpin upacara yang disebut Mayore Labo, dan penyiapan kehadiran Tembonang u Banua (pemimpin negeri sesuai tingkatan pemerintahan pelaksanaan upacara seperti kepala desa, camat, bupati/walikota atau gubernur) bersama Wawu Boki (isteri pemimpin negeri)serta penyebaran undangan kepada seluruh anggota masyarakat untuk hadir dengan membawa makanan untuk acara Saliwangu Banua (pesta rakyat makan bersama).
Waktu pelaksanaan upacara adat Tulude adalah sore hari hingga malam hari selama kurang-lebih 4 jam. Waktu 4 jam ini dihitung mulai dari acara penjemputan kue adat Tamo di rumah pembuatan lalu diarak keliling desa atau keliling kota untuk selanjutnya dibawa masuk ke arena upacara. Sebelum kue Tamo ini di bawah masuk ke arena upacara, Tembonang u Banua (Kepala Desa, Camat, Walikota/Bupati atau Gubernur wajib sudah berada di bangsal utama untuk menjemput kedatangan kue adat ini. -- (Semuel Muhaling)
MELALUI KEGIATAN INI SAYA SANGAT MENGHARAPKAN MARI KITA TETAP LEBIH MENJAGA TALI PERSAUDARAAN KITA ANTAR SUKU, AGAMA, RAS, DAN BUDAYA, SEHINGGA MAKNA POSITIF DARI KEGIATAN INI AKAN TERBENTUK DENGAN SENDIRINYA DALAM DIRI KITA, UNTUK TETAP SALING MENGHARGAI, DAN MENGHORMATI SUKU, AGAMA, RAS, DAN BUDAYA SATU DENGAN YANG LAIN. SEHINGGA APA YANG KITA CITACITAKAN UNTUK MEMBANGUN KABUPATEN GORONTALO UTARA YANG SAMA KITA CINTAI AKAN TERWUJUD SESUAI DENGAN DOA DAN HARAPAN MASYARAKAT KABUPATEN GORONTALO UTARA.
Rumah Adat Dulohupa
Representasi Kebudayaan Masyarakat Gorontalo
Keberadaan
rumah adat sebagai wujud material kebudayaan yang bermacam-macam di
daerah-daerah di Indonesia memiliki arti penting dalam sudut pandang
sejarah, warisan, dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban. Rumah
adat di daerah di Indonesia menjadi representasi kebudayaan yang paling
tinggi di sebuah komunitas masyarakat di daerah tertentu.
Salah
satu dari banyak rumah adat yang memiliki makna sejarah, representasi
sebuah komunitas pada zamannya dan kemajuan sebuah peradaban adalah
rumah adat Dulohupa. Rumah adat Dulohupa adalah Rumah adat di daerah
Gorontalo. Grontalo dalam bahasa masyarakat setempat adalah Hulondhalo.
Rumah adat Dulohupa sebagai representasi kebudayaan masyarakat Gorontalo
memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan masyarakat Gorontalo.
Rumah
adat Dulohupa yang memiliki bentuk fisik panggung serta memiliki pilar
kayu sebagai bagian dari hiasan merupakan rumah adat yang memiliki
fungsi sebagai balai musyawarah, pengadilan kerajaan bagi pengkhianat
kerajaan dengan sidang tiga tahap pemerintahan yaitu Buwatulo Bala (Tahap keamanan), Buwatulo Syara (tahap hukum agama Islam) dan Bawatulo Adati (Tahap hukum adat) dan merencanakan kegiatan pembangunan daerah serta menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat setempat.
Nama
Dulohupa memiliki arti mufakat untuk merencanakan sebuah kegiatan
pembangunan serta menyelesaikan persoalan masyarakat setempat maka rumah
Dulohupa adalah tempat untuk bermusyawarah. Saat ini, rumah adat
Dulohupa dipakai juga untuk upacara adat pernikahan. Saat ini rumah adat
Dulohupa berada di kelurahan Limba, kecamatan kota Selatan, Kota
Gorontalo. Tepatnya di seputaran jalan pulau kalengkoan, jalan Agus
Salim serta jalan Tras limboto-Isimu.
Bangunan
Rumah Dulohupa memiliki bagian-bagian khas yang menunjukan bahwa rumah
Dulohupa sebagai tempat bermusyawarah dan representasi dari masyarakat
Gorontalo. Rumah Dulohupa yang biasa disebut masyarakat Gorontalo Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo terbuat dari kayu sebagai simbol dari rumah adat Gorontalo.
Rumah
adat Dulohupa yang merupakan rumah panggung adalah bentuk kesadaran
masyarakat Gorontalo pada zaman itu yang melihat bahwa kondisi
lingkungan yang sering banjir sehingga dibangun rumah panggung yaitu
rumah adat Dulohupa. Pada bagian atap berbentuk khas masyarakat
Gorontalo yang terbuat dari jerami pilihan. Di dalam rumah ini terdapat
perlengakapn untuk upacara perkawinan, pelaminan dan benda berharga
lainnya. Selain itu, pada bagian belakang rumah terdapat anjungan yang
biasanya menjadi tempat bagi raja dan kerabat istana untuk beristirahat
dan bersantai. Rumah (panggung) adat Dulohupa memiliki kekhasan yang
lain yaitu di depan rumah kedua belah sisinya terdapat anak tangga yang
disebut Tolitihu.
Langganan:
Postingan (Atom)
